Selamat Datang

Selamat datang di blog ini, ini merupakan wadah saya untuk menuangkan berbagai hasil pemikiran, pengetahuan dan pendapat yang semoga bermanfaat untuk kita semua. Pada umumnya, artikel-artikel di blog ini merupakan tulisan-tulisan pengembangan diri (self-improvement), ilmu dan praktik Psikologi, serta berbagai hal-hal lainnya yang relevan dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (HRM). Tulisan-tulisan di blog ini bisa anda bagikan (share) melalui berbagai cara termasuk melalui media sosial anda. Jika anda ada pertanyaan, komentar atau bahkan permintaan silahkan tinggalkan di bagian comment.

Terima Kasih,

Hillman Wirawan

Bola semangat

Bola Semangat (spirit bomb)!!!

Situasi saat ini sangat berat bagi kita semua, termasuk kami yang sedang berada di luar negeri jauh dari keluarga. Kondisi di sini juga sangat mengkhawatirkan, tidak lebih baik dari Indonesia. Namun, dari segi penduduk, pemerintah Australia hanya dibebenai dengan 25jt an manusia, bandingkan dengan Indonesia dengan 265jt. Menulis mengenai betapa buruknya kondisi ini hanya akan menambah ketakutan. Saya juga ingin ikut berjuang di garis depan tetapi saya tidak punya keahlian medis. Makanya, saya mau berbagi bola semangat saja 🙂

Pertama, jelas ikuti instruksi pemerintah dan para ahli kesehatan. Saat-saat seperti ini bukan saatnya coba-coba jadi ahli atau uji coba kekebalan tubuh. Meski anda punya ilmu kebal, virus ini tidak peduli. Jadi, lebih baik isolasi diri, lakukan social distance, cuci tangan, dll.

Kedua, ayo semangati mereka yang berjuang melawan virus ini. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya mereka berada di ujung tombak. Mereka manusia biasa seperti kita, bisa lelah, kehabisan tenaga, kehilangan fokus, dan akhirnya juga bisa terpapar virus. Kondisi Psychological distress atau tekanan psikologis yang mereka alami akibat beban kerja yang tinggi bisa sangat fatal bagi mereka. Belum lagi jam makan dan istirahat yang pasti akan sangat berkurang saat situasi seperti ini. Kita hanya diminta untuk berada di rumah, isolasi diri. Sementara mereka harus berhadapan dengan virus ini.

Apa yang bisa kita lakukan? Tulis status semangat buat mereka. Jika kalian punya teman atau keluarga yang bekerja di RS seperti dokter atau perawat, sapa mereka dan berikan semangat meski hanya melalui medsos. Satu kalimat singkat,”kamu pahlawan kami,” “terima kasih sudah bekerja keras,” “kamu hebat,” “kami bangga padamu,” dll, mungkin terkesan sederhana tetapi akan memberikan mereka energi.

Jika anda pernah menonton film kartun “Dragon Ball” mungkin anda tahu istilah Bola Semangat (spirit bomb). Bola ini digunakan oleh Goku untuk menghancurkan musuhnya. Tetapi, bola ini baru bisa sangat besar dan kuat jika mendapat dukungan dari seluruh manusia di dunia. Singkat cerita, berkat semangat dari semua orang Goku berhasil mengalahkan musuhnya.

Kalimat yang kita ucapkan baik melalui medsos maupun secara langsung akan membentuk bola semangat dan memberikan energi bagi mereka. Seperti dongeng? Tidak, ini hasil riset dalam bidang Psikologi. Manusia juga membutuhkan resources untuk bertahan menghadapi psychological distress yang akan semakin berat ketika situasi baru dan tidak menentu seperti saat ini. Resources (sumberdaya) itu bisa bermacam-macam. Dukungan dari pimpinan, peralatan medis yang memadai, dan fasilitas-fasilitas pendukung kerja adalah beberapa contoh sumberdaya. Tetapi, ada satu bentuk sumberdaya lain yaitu Psychological Resources, ini bisa berbentuk kepercayaan diri, harapan, optimisme, dan lain sejenisnya. Kita bisa ikut memberikan energi bagi Psychological Resources mereka.

Dokter dan perawat harus berjuang dengan keterbatasan sumberdaya dan bukan hanya terbatas tetapi terus menerus terjadi resource depletion (sumberdaya habis terpakai). Meski harus dihadapkan pada kenyataan keterbatasan fasilitas, semoga mereka tidak kekurangan Psychological Resources. Kalimat-kalimat semangat kita akan menjadi sedikit energi bagi mereka yang dapat menggantikan Psychological Resources yang terkikis habis akibat Psychological distress. Semoga dengan begitu mereka tetap bertahan, semangat dan tahu bahwa kerja keras mereka sangat kita hargai. Bola semangat yang kita bentuk semoga bisa menjadi sumberdaya yang memperkuat mereka menghadapi serangan virus ini.

Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi aktivitas saat berada di rumah.

Salam dari Australia,

Hillman Wirawan

#bolasemangat

sumber gambar: https://www.pinterest.com.au/pin/482096335110479564/

(Let me control) What’s on your mind?

Saya tidak begitu tahu apakah kita semua memahami ini atau tidak tetapi semoga ini bisa menjadi pengetahuan bermanfaat untuk kita. Saya berusaha untuk menuliskannya dengan bahasa yang sedikit mudah dipahami agar kita mengerti bahwa media-media sosial yang kita miliki bukan sekedar tumpukan akun, like, foto-foto, tombol share, comment dan status. Media sosial yang kita miliki adalah data tentang diri kita, perilaku kita, kepribadian kita, dan privasi kita bahkan data mengenai kelompok dan negeri kita.

Anda familiar dengan kalimat “what’s on your mind?” ini adalah kata “trigger” atau juga pemantik. Kalimat tersebut telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang memiliki makna yang sepadan. Intinya adalah meminta kita membagikan apa yan sedang kita pikirkan. Semakin sering “seketika” kita membagikan maka akan semakin baik, paling tidak dari perspektif pemilik media sosial tersebut. Tetapi kemudian muncul banyak pertanyaan; mengapa mereka melakukannya? Apa keuntungan mereka? Apa kepentingan mereka dan sebagainya? Jawabannya sederhana meskipun sebenarnya rumit; ini adalah bisnis “data” dan “mind control.”

Saya tidak begitu peduli dengan hal ini sampai pada akhirnya beberapa hal terjadi di bulan-bulan terakhir tahun 2016. Saya khawatir apa yang “sedikit” yang didiskusikan saat kuliah di Amerika waktu itu (namun sempat saya abaikan ini) betul-betul terjadi. Kita menjadi sangat sibuk di sosial media, emosi kita terkuras di dalamnya, banyak informasi tersebar, dan banyak yang akhirnya menjadi korban. Otak kita sudah menjadikan yang kita lihat di dunia maya sebagai kebenaran. Apa yang sebenarnya terjadi?

Mungkin akan lebih baik jika saya ceritakan sedikit latar belakangnya. Bidang konsentrasi saya adalah Psikologi Industri dan Organisasi. Singkatnya, kami banyak mempelajari berbagai praktik-praktik asesmen dan intervensi di lingkup dunia kerja. Mungkin ini akan menjadi cerita yang sangat panjang jika semua perkuliahan saya ceritakan, tetapi ada dua yang mungkin bisa memberikan gambaran mengenai hal ini. Pertama, saat kuliah di semester awal kami belajar mengenai berbagai cara melakukan asesmen termasuk asesmen kepribadian kandidat yang akan diterima di tempat kerja. Berbagai alat tes kami pelajari bahkan kami buat sendiri, ini merupakan hal yang sudah familiar bagi kami. Tetapi, ada satu pertemuan saat professor memperlihatkan contoh penggunaan akun facebook seseorang sebagai data untuk menginterpretasi kepribadian kandidiat. Meskipun ini kontreversial, tetap kami pelajari.

Beliau menjelaskan bagaimana perilaku seseorang di media sosial menjadi sumber data bagi kami. Data? Darimana data tersebut datang. Ternyata, baik kita sadari atau tidak kita telah memberikan data kita ke Facebook. Bukan hanya mengenai identitas kita seperti nama, tempat tanggal lahir, pendidikan dan sebagainya. Postingan yang kita bagi adalah data. Setiap pilihan kata kita dalam satu kalimat status adalah data. “like dan comment” yang kita berikan untuk link atau status tertentu juga adalah data. “share” juga adalah data. Foto-foto yang anda bagikan, bahkan saya curiga expresi wajah yang ada di foto, juga adalah data. “scroll” yang anda lakukan bisa jadi juga data karena itu sangat bisa terlihat berapa detik anda behenti mengamati untuk status tertentu. Bahkan, anda tidak melakukan apapun juga sudah menjadi data pola akses anda.

Hal seperti ini sering saya tidak pedulikan sampai akhirnya saya sendiri yang menggunakan beberapa software sederhana untuk pengumpulan data. Melalui bimbingan professor, saya pernah membuang data partisipan yang terdeteksi tidak serius dalam memberikan respon dengan mengamati “perilakunya” saat secara online mengisi survey. Jika saya saja bisa melakukannya secara sederhana dengan software sederhana, mengapa perusahaan besar seperti Facebook tidak bisa melakukan hal yang lebih “gila” lagi.

Itu baru yang pertama dan saya masih menganggap biasa saja. Semester berlalu, terus terjadi hal yang kedua. Di kelas yang berbeda kami belajar mengenai intervensi. Sederhananya ini kelas yang ditujukan untuk mengubah perilaku seseorang di tempat kerja agar lebih efektif dan effisien. Perdebatan terjadi ketika kami diminta membaca hasil riset yang tidak dipublish, terindikasi melanggar etika, dan mengundang banyak protes. Riset itu dilakukan oleh media sosial terbesar; Facebook.

FB melakukan experimen dengan jutaan user-nya. Ini adalah hal yang paling mengejutkan bagi kami waktu itu. Singkatnya, FB mengatur newsfeed user yang menjadi target dari experimentnya dalam kurun waktu tertentu. Secara sengaja mengontrol apa yang orang/ user itu lihat termasuk status teman, iklan, foto-foto, posts, dan lain sebagainya. Hasilnya cukup mengejutkan. Orang-orang yang sengaja dikontrol tersebut betul-betul terkontrol. Apa yang mereka post di status mereka berikutnya sesuai dengan “control” yang telah diberikan FB sebelumnya. Contohnya, (ini sedikit saya sederhanakan mungkin lebih ribet dari ini) jika orang tersebut diberikan newsfeed “kebencian” maka tunggu beberapa waktu dia akan “membagikan kebenciannya juga.” Begitupula dengan beberapa perasaan seperti senang, bahagia, marah, dan lain sebagainya. Singkatnya, pada experiment itu FB mengendalikan perasaan user-nya. FB tidak melanggar etika karena menurutnya apa yang dilakukan sesuai kesepakatan saat user akan membuat akun. Ketik di google “Facebook mood manipulation” untuk tahu lebih banyak.

Ok, sekarang tarik nafas dulu.

Berapa media sosial yang anda miliki? Seberapa aktif anda? Berapa teman anda di media sosial itu? Dan terakhir kemana “data” tersebut mengalir dan untuk apa? Jangan bayangkan data yang saya maksud seperti data Ms.Excel atau yang siap diolah oleh SPSS, lebih rumit daripada itu. Tanyakan kepada para ahli Big Data analysis apa yang dimaksud dengan data, mereka lebih paham.

Ingat juga, data itu bukan mengenai pribadi satu RT atau kontrol mood/ perilaku satu orang. Suatu saat (atau mungkin sudah terjadi) ini adalah hal yang sangat mungkin dilakukan untuk mengendalikan satu kaum (atau mungkin Negara). Jika ini terdengar berlebihan, setidaknya ingat jika beberapa orang telah menjadi target dalam experiment dan itu berhasil. Perlu dipahami bahwa tidak perlu merekayasa informasi apapun, hanya dengan mengatur informasi yang anda terima saja sudah cukup untuk mengendalikan apa yang anda pikirkan, secerdas apapun anda.

Kita sudah terlanjur berada di dunia media sosial, keluar dari sinipun data tentang kita juga tetap ada. Informasi mengenai diri kita sebenarnya dijamin kerahasiannya tetapi bukan berarti tidak digunakan sama sekali. Hal yang mungkin paling sering kita dengar jika data tersebut digunakan oleh para pebisnis untuk menarget kita sehingga advertisement tepat sasaran.

Hal yang terbaik dilakukan yakni jadilah pengguna yang baik dan bijak. Ingat jika apa yang kita lakukan di media sosial adalah data. Ingat pula, jika bisa saja perasaan dan perilaku kita adalah hasil rekayasa dari sosial media. Contoh sederhana, untuk membuat si A memilih “appel” maka dia cukup dibanjiri informasi tentang appel, lalu dia akan memilih appel. Tidak hanya itu, banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan untuk mengubah cara kita berpikir sehingga kita tidak dapat membedakan antara realitas dan dunia maya.

Jika kita tidak mengontrol perilaku kita ber-sosial media, maka sosial media lah yang akan mengontrol kita.

Semoga ini bermanfaat untuk kita dan untuk Negeriku Indonesia

 

Makassar, 1 Januari 2017

Hillman Wirawan

“My Name is Hillman … ”

Sekitar 11 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2005, hanya beberapa tahun setelah kejadian teror runtuhnya menara kembar yang terjadi di kota New York, saya berangkat ke Amerika. Saya terpilih sebagai salah satu siswa SMA untuk program Pertukaran Pelajar AFS-YES. Saat itu, saya sangat merasakan bagaimana Islam agama saya, yang sebelumnya tidak pernah dilirik bahkan tidak begitu menjadi perhatian tiba-tiba disoroti banyak orang di seluruh dunia. Tidak terkecuali para siswa SMA di US dan berbagai mahasiswa pertukaran pelajar lainnya dari berbagai Negara.

Saya saat itu adalah seorang santri (dan akan selalu menjadi santri), walaupun tidak begitu kelihatan di wajah saya (mungkin juga pada akhlak saya) tetapi saya juga pernah duduk pengajian maghrib dan subuh ditambah jadwal belajar malam sekitar pukul 9 hingga 11 malam. Tidak kurang dari 14 kitab (seperti Kasifatu Saja, Tafsir Jalalain, Bulugul Maram, Muhtarul Ahadis, dll.. ) yang sempat kami pangku dengan duduk bersilah dihadapan Gurutta Kiyai. Selain itu, pada usia sekitar 15 tahun saya sudah mulai ke beberapa pelosok daerah berda’wah, tinggal di daerah itu selama 1 bulan, mengajar ngaji anak-anak, menjadi imam rawatib, ngurusi masjid-masjid di daerah terpencil, jadi khatib, memimpin sholat Ied, dan berbagai tugas lainnya. Itu semua sudah saya lakukan di usia tidak lebih 15 tahun dengan tinggi badan belum lebih dari 155 cm.

Tibalah suatu hari dimana saya harus berangkat ke sebuah Negara dimana Islam sedang dibenci, banyak yang belum mengerti tentang Islam, dan banyak yang akhirnya salah memahami al-Qur’an. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah “mengapa al-Qur’an memerintahkan Jihad?” Perlu dicatat, pada waktu itu (mungkin juga sekarang), bagi mereka kata “Jihad” tidak jauh bedanya dengan kata “pembunuhan massal.” Tidak sedikit saya mendengarkan orang-orang bercerita dan menyudutkan Islam. Saya cukup sering mendengar ucapan yang membuat saya “panas” seperti “Rasulullah SAW dikatan hypers*x”, “Islam itu layak dimusnahkan,” “al-Qur’an itu mengajarkan pembunuhan/ pemusnahan kaum lain,” dan “orang berhijab itu kepanasan” dan banyak lagi.

Saya beri contoh specifik, saat itu di kelas kami sedang belajar dan guru membawa beberapa fenomena yang sedang marak terjadi salah satunya adalah (maaf) kartun (yang dikatakan) bergambar “Rasulullah SAW sedang memegang Bom dan memakai punutup kepala berbentuk Bom” terbit di salah satu majalah terkenal di US. Spontan kelas memberikan respon mendukung publikasi itu seiring rasa kesal, negatif, dan geram kepada Islam namun tidak sedikit siswa yang lebih bijak menanggapi. Usia mereka waktu itu sekitar 16 atau 17 tahun, masih sangat muda. Salah satu diantara mereka bahkan berkata “Islam dan Nabi Islam itu layak diperlakukan seperti itu.” Guru langsung melihat saya sambil berkata “santun sedikit kita punya teman yang beragama Islam.”

Saya saat itu sangat kesal, saya mengerti Islam dan tahu bahwa pantang bagi ummat Islam untuk mundur selangkahpun ketika Islam dihina. Ini bukan persoalan pendapat, ini sudah jadi perintah tertulis dalam Islam. Tapi tunggu dulu, mundur untuk mengatur strategi juga dibolehkan dalam Islam. Jadi saat itu saya diam sambil hanya sedikit tersenyum. Saya pulang ke rumah dari sekolah dengan pertanyaan yang harus saya pikirkan “apa yang membuat mereka seperti itu.” Melawan dengan amarah “satu” orang yang menghina Islam tidak akan merubah apapun kecuali memperburuk Islam di mata mereka.

Saya tidak begitu cerdas dan juga bukan ahli agama yang bisa menjelaskan seluruhnya mengenai Islam. Saya juga mengerti bahwa mereka ini (teman-temanku) adalah orang-orang yang sedang tersakiti. Meskipun saya tahu bahwa Islam tidak mengajarkan tindakan terorisme, saya juga harus paham bahwa label Islam telah digunakan untuk tindakan itu. Mereka marah kepada agamaku Islam, mereka juga ingin membalas kematian keluarga mereka, mereka ingin keamanan dan keselamatan dari ancaman Islam, mereka ini manusia sama seperti saya. Saya betul-betul bingung karena jika saya diamkan maka saya bisa saja berdosa, jika saya dengan lantang “berteriak” mereka bisa saja berkata “cocok, memang begitu Islam” dan akhirnya saya semakin menghancurkan Islam agamaku.

Ya Rasulullah SAW, andaikan engkau ada disini bersamaku pastilah aku bisa meminta saranmu. Kemudian saya kembali berpikir, Rasulullah SAW pernah berada disituasi sulit dimana Islam saat itu sangat asing dan ditolak. Tetapi satu hal yang menjadikan Islam secara perlahan diterima yakni karena Akhlak Rasulullah SAW. Jika Beliau telah memulainya, maka tugas saya berusaha meneladaninya. Berarti, jika saya menunjukkan bagaimana Islam berperilaku maka ada kemungkinan mereka bisa memahami Islam.

Saya memulai hari-hari menjadi duta Islam. Di berbagai kesempatan saya menjelaskan tentang Islam sebisa saya. Di berbagai situasi saya berperilaku dengan selalu bertanya “jika seperti ini, apa yang disarankan Rasulullah SAW.” Sampai akhirnya sedikit demi sedikit saya juga belajar bahwa bukan Islam yang mereka benci tetapi mungkin perilaku penganut agama Islam. Inilah jihadku, menunjukkan Islam dan diri sebagai muslim di tanah perantauan. Seiring waktu saya semakin banyak menerima pertanyaan seperti “tentang najisnya Anjing, mengapa tidak boleh makan Babi, sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, hijab, jihad dan banyak lagi.” Mereka bertanya seiring beranggapan bahwa aturan dalam Islam begitu banyak. Jadi, saya juga menjawab dengan berbagai fleksibilitas dalam aturan-aturan tersebut. Seperti, sholat tidak harus 5 waktu kalau kita dalam perjalanan, Babi bisa saja dimakan kalau dalam situasi darurat, dan Jihad bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti saya yang sedang belajar sekarang.

Tidak ada yang signifikan berubah pada mereka, saya tidak sehebat Rasulullah SAW yang bisa mengubah sebuah kaum. Tetapi, ada satu orang yang saya pastikan berubah yakni diri saya sendiri. Dengan berusaha menjelaskan agamaku dan menjalankan Islam di Negara asing membuat saya paham betapa Rasulullah SAW dan Islam diutus menjadi Rahmatan lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta ini.

Tibalah diakhir tahun pelajaran, sudah hampir setahun saya di negeri itu dan saatnya untuk berpamitan.

 

hasil-scan

Hillman di tahun 2006

Ada beberapa kejadian yang membuat saya begitu terharu, salah satunya ketika salah seorang gadis di kelas datang menghampiri. Saya tidak begitu akrab dengannya, tetapi dia datang duduk di sebelahku sambil berkata “Hillman saya ini tidak punya agama, saya tidak percaya agama, tetapi setelah melihatmu saya ingin belajar Islam.” Di lain kesempatan saat saya berpamitan dengan salah seorang teman kami bercakap-cakap di mobil dan dia berkata “Hillman, saya benci Islam tetapi setelah kita berteman beberapa bulan ini, saya berubah pikiran terima kasih bro sudah menunjukkan Islam kepada kami.” Dan, si manusia yang menghina Rasulullah SAW dihadapanku itu akhirnya meminta maaf. Saya bukan satu-satunya yang merasakan ini, beberapa teman-teman muslim yang hidup dengan kesabaran menunjukkan akhlak sebagai seorang muslim menjadi diterima dan bahkan membuat banyak orang semakin memahami Islam.

 

Inilah jihadku sebagai santri yang tinggal di negeri asing. Saya mengerti ketika mereka marah, ketakutan, dan merasa terancam dengan keberadaan Islam itu karena Negara mereka pernah diserang oleh orang-orang dengan label Islam. Tugasku adalah meneladani Rasulku dan mencerminkan bahwa Islam agamaku penuh dengan kasih sayang. Mungkin tidak sepenuhnya berhasil, tetapi setidaknya aku telah menjalankan tugasku sebagai seorang santri di negeri terasing.

Tanggal 4 November, ummat Islam turun ke jalan. Mereka marah karena ada sosok pemimpin negeri ini yang diduga menghina ayat dalam al-Qur’an. Kita belum tahu keputusan pengadilan apakah memang terbukti menghina atau tidak, tetapi ini adalah hal wajar ketika suatu kaum MERASA kitab sucinya diganggu, dihina, dan direndahkan. Seperti saya yang hidup di negeri orang sebagai santri, bukan etnis atau ras saya yang dibenci, bukan pula agama-ku yang sebenarnya mereka benci tetapi mereka ketakutan dan khawatir dengan ancaman orang-orang yang menganut agama sepertiku. (Semoga) Ummat Islam turun ke jalan, bukan karena agama pemimpin tersebut, bukan karena etnis atau ras pemimpin tersebut tetapi karena ummat Islam MERASA ada perilaku/ ucapan yang mengusiknya.

Saya membela agamaku Islam bukan hanya satu hari tetapi setiap detik dalam hidup ini. Saya tidak turun ke jalan secara fisik, tetapi bukan berarti saya sedang libur membela agamaku. Semoga kita semua hidup dengan meneladani Rasulullah SAW dan menjadi pembela Islam di setiap hembusan nafas kita, bukan hanya sehari.

4 November 2016

Salam Rahmatan lil A’lamin

Hillman Wirawan, S.Psi., MM., M.A.

Industrial and Organizational Psychology Specialist

 

Motivasi Beracun

100815_2430_GRAD students nightSelama menempu pendidikan di Amerika, hal yang paling menarik bukan teknik tertentu atau alat ukur psikologi tertentu. Menurut saya, hal yang paling menarik adalah BELAJAR CARA BELAJAR dan BELAJAR CARA BERPIKIR. Melalui cara belajar seperti ini kemampuan berpikir mengenai suatu bidang ilmu semakin dalam. Melalui cara belajar ini saya menjadi sadar bahwa tidak semua yang dilakukan oleh banyak orang lantas sudah benar dan tidak semua yang telah dilakukan berulang-ulang dari waktu ke waktu juga adalah sesuatu yang benar.

Ini juga terjadi di dunia pengembangan sumber daya manusia baik di Industri, Organisasi dan Bisnis. Prinsip-prinsip motivasi bertebaran dimana-mana, dijadikan prinsip hidup, nasehat bisnis, pedoman hidup, dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya memang baik, sebagian diantaranya mungkin kurang baik diterapkan, bahkan tidak sedikit yang terdengar hebat namun kurang berdampak baik. Memang agak sulit memilah dan memilih “ajaran” atau “prinsip” mana yang benar dan tepat, karena semuanya akan terlihat dan terdengar hebat jika disampaikan oleh orang yang dianggap hebat. Ini bukan hanya tersebar di berbagai training atau seminar, tetapi juga tersebar melalui berbagai buku dengan judul-judul yang fantastis.

Saya menyebutnya Hype = Ide atau Konsep “dijual” diberbagai Negara dengan berlebihan seakan tidak ada kekurangannya. Padahal, di negeri asal konsep/ prinsip tersebut ditemukan selalu dibarengi dengan penjelasan mengenai kekurangannya. Konsep tersebut lalu menyebar diberbagai bidang seperti pendidikan, bisnis, dan organisasi. Hasilnya, jika diterapkan memang terlihat begitu cepat terjadi perubahan ke arah positif namun belakangan ternyata justru merugikan.

Saya coba jelaskan sedikit yang sempat saya ingat, saya bisa saja menyertakan referensi untuk setiap poin dibawah ini tapi nanti jadinya seperti kajian literatur. Jadi, saya jelaskan saja sesederhana yang saya bisa.

  1. Sukses ditentukan oleh 70%, 80%, 90%, …. dan hanya 10%, 20%, 30% ditentukan oleh…

Ini salah satu yang paling sering tersebar dimana-mana. Tidak jarang saya menghadiri seminar/ training lalu pembicaranya menyebutkan persentase. Uniknya, persentase tersebut tidak pernah konsisten antara satu pembicara dengan pembicara yang lain. Contoh, “sukses ditentukan 80% kecerdasan xxx dan hanya 20% oleh faktor xxx”. Sebenarnya, sangat sulit untuk menentukan satu saja faktor dominan penentu kesuksesan dan juga tidak ada faktor yang dominan hingga mencapai 80%. Jangankan penentu kesuksesan, definisi sukses untuk setiap orang saja berbeda sehingga faktor penentunya juga berbeda. Solusinya, karena faktor sukses itu unik untuk setiap orang gunakan saja faktor yang paling anda kuasai, miliki, senangi, dan nikmati.

  1. Banyak Mikir = Otak Kiri = Lambat = Tidak Berhasil, jadi “Otak Kanan” saja

Beberapa tahun lalu, ini termasuk yang popular di Indonesia. Saya sering dibuat gregetan dengan beberapa rekan/ client yang saya minta memulai bisnis dengan lebih sistematis, terukur, dan terencana. Paling sering saya dengar seperti ini “mikir= itu otak kiri, langsung mulai saja,” kadang saya kesal dan bilang “bedakan pakai otak kanan dengan tidak pakai otak.” Parahnya lagi, dunia pendidikan juga dibawa-bawa dengan asumsi “pendidikan kita hanya menstimulasi otak kiri saja sehingga otak kanan nganggur,” (kasian para guru yang sudah lelah mengajar). Padahal, pola kerja otak tidak sesederhana itu.

Tidak ada seniman, ilmuan, pengusaha, pendidik, dan pemimpin yang hanya berpikir dengan satu belahan otak. Otak kanan dan kiri keduanya berfungsi dan digunakan ketika seseorang memproses informasi. Dari sisi science, konsep ini (dominasi otak kanan/ kiri) dianggap sebagai mitos dan tidak ditemukan bukti yang kuat (baca hasil penelitian di University of Utah dengan 1011 otak manusia http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0071275) (ini yang saya tunjukkan karena artikelnya open access, kalau yang lain saya takut melanggar etika). Jadi, mungkin sekarang harus berhenti hanya pakai satu belahan otak tetapi belajar menggunakan otak.

  1. Berpikir Positif atau menipu diri?

Ini juga paling popular, bahkan jadi obat paling mujarab untuk untuk setiap masalah orang. Para pembicara talkshow di radio bahkan televisi juga sering menggunakan “resep” berpikir positif. Contohnya, ada pendengar yang bertanya terus diberikan jawaban dengan sangat sederhananya yaitu “berpikir positif-lah!” Padahal permasalahan setiap orang itu rumit dan tidak cukup hanya dengan “berpikir positif.” Mereka harus diajar untuk memikirkan masalahnya dan mencari alternatif solusi terbaik. Saya sering di tengah-tengah materi pelatihan bercerita begini:

Di hutan Afrika ada dua orang yang tersesat, tiba-tiba di hadapan mereka ada seekor Singa yang sangat lapar. Orang pertama adalah seorang pengusaha yang selalu optimis dalam hidup dan penuh dengan pikiran positif, sedangkan orang kedua adalah masyarakat lokal yang sama sekali tidak pernah sekolah. Apa yang harus dilakukan keduanya agar terhindar dari Singa?

Bayangkan, karena mungkin otak kita sudah sering dicuci dengan “berpikir positif” yang keliru sehingga untuk pertanyaan ini jawabannya menjadi sangat susah. Bahkan ada yang menjawab “orang pertama tidak akan dimakan karena dia berpikir positif bahwa singanya tidak lapar.” Padahal ini sangat sederhana, lari saja sekencang yang mereka bisa dan bersembunyi. Sama saja, hidup kita tidak akan berubah signifikan dengan hanya tinggal diam berpikir positif. Jangan menipu diri dengan berharap perubahan hebat terjadi dengan hanya berpikir positif.

Perlu juga kita ingat bahwa Tuhan mengkaruniai kita pikiran, baik itu positif atau negatif bertujuan untuk membantu kita bertindak. Keduanya bermanfaat termasuk pikiran negatif. Pikiran negatif membantu kita mengantisipasi dan mempersiapkan segala halnya lebih baik. Pikiran positif membuat kita menyambut optimis perencanaan dan usaha keras kita. Jika pikiran negatif muncul bisa jadi merupakan sinyal untuk memperbaiki diri, mencari informasi baru, atau belajar lebih baik lagi. *Catatan, yang saya maksud pikiran negatif disini bukan prasangka negatif kepada orang lain.

Solusinya, pikirkan semuanya dengan sebaik yang kita bisa, bertanya dan belajar, persiapkan segalanya sebaik yang kita bisa dan lakukan yang terbaik yang kita bisa lalu tunggu dengan “harapan” positif (positive expectation) bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Semoga ini bermanfaat,

Makassar, 30 Juli 2016

Hillman Wirawan

Pengetahuan, Pemahaman dan Kebijaksanaan

Beberapa bulan lalu, ada pengalaman belajar yang cukup membuat saya berpikir tentang kebijaksanaan, pengetahuan dan pemahaman. Saat itu, kami sedang dalam proses menyelesaikan salah satu proyek intervensi. Judul program kuliah tersebut adalah “interventions for effective organization.” Dalam perkuliahan tersebut kami belajar berbagai bentuk intervensi, mulai dalam bentuk training, konsultansi, hingga coaching. Ada banyak hal yang cukup mencengangkan dan menjadi titik-titik belajar bagi orang seperti saya – yang masih sangat kurang memahami intervensi.

Sebagai calon Industrial and Organizational Psychologist (biasanya disingkat I/O Psychologist atau IO Psych Specialist), kami diwajibkan untuk merancang sebuang program intervensi yang akan diterapkan di organisasi, menerapkannya, dan melaporkan hasilnya. Teman-teman di kelas rata-rata menerapkan intervensi di tempat mereka bekerja (sebagian besar bekerja), namun ada juga yang masih harus mencari perusahaan lain (seperti saya). Syukurlah, perusahaan yang saya ajukan dan intervensi yang saya tawarkan berdasarkan analisis disetujui oleh dosen pembimbing intervensi.

Sedikit mengenai dosen ini, dia lulusan dari salah satu universitas terbaik di US, pernah menjadi konsultan di Jepang, dan ahli dalam studi penggunaan teknologi cyber di tempat kerja. Usianya mungkin belum 30 tahun (masih jomblo), namun keahliannya dalam statistik tidak meragukan. Saat diajar dulu, dia menjelaskan salah satu buku ternama namun keliru menginterpretasikan uji hipotesis. Ringkasnya, dia Doktor, Psikolog SIOP/APA, ahli teknologi and statistik dan punya pengalaman yang matang.

Lanjut, setelah intervensi disetujui kami harus mengkonsultasikan program yang kami tawarkan. Waktu itu, saya menawarkan sebuah sistem seleksi dengan penggunaan teknologi. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi dengan manager perusahaan, selama proses administrasi alat hingga pembuatan keputusan seleksi sangat mungkin terjadi error. Saya coba analisis errornya dan ternyata memang ada walaupun tidak banyak, tetapi perusahaan menginginkan zero error.

Selama dua pekan saya berpikir, membaca berbagai teori tes, dan berdiskusi mengenai penggunaan teknologi tes. Setelah matang dengan berbagai bahan, saya menyimpulkan; sebaiknya perusahaan ini memanfaatkan layanan sistem tes berbasis teknologi termasuk proses grading. Jaringan internet dan fasilitas yang ada sangat memungkinkan untuk melakukan itu. Pokoknya, sudah yakin. Saya juga berpikir inikan juga sudah diteliti dan terbukti baik untuk perusahaan.

Nah, tibalah hari saya menghadap sang dosen untuk menyampaikan apa yang saya akan lakukan. Dia sangat menyambut baik dan menghargai hasil analisis saya. Tetapi, argumen yang saya buat dalam “pertapaan” selama dua minggu rapuh hanya dalam dua menit. Sang dosen itu berkata dengan bijaknya,

“Hillman, beberapa perusahaan bukan tidak mampu menggunakan teknologi, tetapi mereka mempunyai budaya dan nilai yang coba mereka jaga. Kita harus menghargai itu, dan mencoba membantu tanpa menyalahkan nilai dan budaya mereka.” Si Dosen juga bercerita, waktu menjadi konsultan di Jepang dia juga menemui kasus serupa dan tidak memaksa perusahaan menggunakan teknologi, meskipun dia adalah seorang ahli. Hari itu saya belajar, pengetahuan belum tentu berbuah pemahaman dan pemahaman seharusnya dibarengi kebijaksanaan. Saya sangat kagum dengan sikap ilmiah dosen ini, pengetahuannya, dibarengi pemahaman dan kebijaksanaan.

Kita bisa menghapal rumus, membaca beribu jurnal, menulis buku dan sebagainya, tetapi pengetahuan itu belum tentu berbuah pemahaman apalagi kebijaksanaan. Saya, saat itu mungkin tahu mengenai teknologi dan analisis kebutuhan perusahaan, tetapi saya tidak paham nilai dan budaya organisasi, apa lagi hingga membuat keputusan yang bijaksana. Akhirnya, proyek intervensi itu beralih dari penggunaan teknologi ke arah pemetaan beban kerja psikolog dan asisten psikolog.

Para pelajar Indonesia, keluarlah menatap dunia yang luas ini hingga engkau menemukan kebijaksanaan dibalik pengetahuan dan pemahamanmu.

Ditulis di Hari Pendidikan Nasional

Bloomfield, NJ Mei-02-2016

Hillman Wirawan

 

Persiapan Kuliah ke Luar Negeri

Beberapa di antara kita mungkin lebih mengutamakan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri seperti ke UK, USA atau Australia. Namun, tidak semua berhasil menggapai cita-cita tersebut. Itu bukan berarti anda tidak mampu, kemungkinan besar hanya karena kurang persiapan. Berikut beberapa tips yang mungkin anda bisa terapkan untuk mempersiapkan diri belajar ke luar negeri. Beberapa tips ini sudah saya coba dan beberapa diantaranya baru saya sadari ketika menempuh perkuliahan di Amerika. Semoga ini membantu:

Tips ini saya buat berdasarkan tahapan mulai dari masuk sebagai mahasiswa baru di universitas setelah lulus SMA/ MA hingga anda melamar program beasiswa atau kampus di luar negeri.

  1. Semester 1, masa ini adalah masa-masa sibuk orientasi mahasiswa. Gunakan waktu ini untuk mengenali tempat kuliah anda termasuk teman-teman, para dosen, fasilitas kampus, dan berbagai lembaga-lembaga kemahasiswaan. Ini sangat penting  karena disinilah anda akan belajar memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mendukung proses pembelajaran. Ingat, profil yang dituliskan di aplikasi beasiswa tidak dibuat semalaman saja tetapi dimulai sejak anda terdaftar menjadi mahasiswa S1. Oleh karena itu, anda harus paham kampus dan sumber daya yang ada untuk mendukung pembentukan “profil” anda.
  2. Semester 2, tentunya anda sudah mulai familiar dengan situasi yang ada termasuk berbagai perkuliahan dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Di semester ini, mulailah untuk belajar bahasa di kampus tujuan anda nanti. Misalnya, untuk Amerika anda belajar Bahasa Inggris. Cukup dengan satu atau dua jam per pekan saja dalam dua atau tiga tahun kemampuan Bahasa Inggris anda akan meningkat. Ingat, belajar bahasa perlu waktu dan tidak instan.
  3. Semester 2 atau 3, usahakan anda aktif terlibat berbagai aktivitas luar dan dalam kampus. Alasannya sangat jelas, program-program beasiswa atau kampus tidak akan menanyakan bagaimana mata kuliah A, B atau Z karena mereka tinggal melihat transkrip. Tetapi, pengalaman berorgarnisasi, terlibat di kepanitiaan, ikut lomba, menjadi pengurus dan sebagainya memperkaya profil anda.
  4. Semester 4 atau 5, pada masa ini coba lirik dosen atau professor yang sementara sibuk melakukan penelitian atau mengerjakan proyek. Beberapa kampus di luar negeri memberikan nilai plus kepada mahasiswa dengan pengalaman menjadi Asisten Peneliti, Asisten Lab, atau Asisten Dosen. Tawarkan diri untuk membantu dosen tersebut meneliti dan ingat minta surat atau sertifikat bukti sebagai asisten peneliti. Saya membantu beberapa adik-adik untuk masuk ke perguruan tinggi dan ketika saya lihat mereka menerbitkan jurnal bersama dosennya atau professornya, saya langsung bilang “kamu Insya Allah diterima” dan ternyata terbukti. Apalagi, kalau bisa sama-sama menerbitkan jurnal jauh lebih baik lagi.
  5. Semester 6 dan 7, rencanakan lulus selesai dengan standar IPK yang baik tidak perlu IPK paling tinggi yang penting baik dan cukup dipakai sebagai syarat melamar kuliah atau beasiswa. Anda harus punya target lulus kuliah dan itu harus direncanakan. Ingat, pastikan anda bukan hanya “wisuda” dari mata kuliah saja tetapi juga “wisuda” dari pelajaran hidup berlembaga/ berorganisasi.
  6. Setelah lulus, jika anda lulusnya cepat (3,5 atau 4 tahun) maka gunakan kesempatan itu untuk tetap belajar. Gunakan ilmu yang anda pelajari di perkuliahan dengan cara bekerja atau mengabdi disuatu tempat. Misalnya, menjadi seorang guru bantu, mengajar anak-anak, magang di LSM, atau menjadi relawan. Pengalaman-pengalaman seperti ini sangat membantu baik saat mengisi aplikasi maupun ketika kuliah di luar negeri nanti. Kebanyakan aplikasi beasiswa menanyakan “apa kontribusi anda” dan “apa yang akan anda berikan nantinya.” Selain itu, sewaktu berdiskusi dengan teman-teman di kelas, kebanyakan kami saling berbagi pengalaman.
  7. Mulai mendaftar, ada banyak program beasiswa luar negeri yang ditawarkan. Mulailah pelajari syarat-syarat pendaftaran setiap beasiswa tersebut. Jangan menyerah hanya karena banyaknya syarat. Bertanyalah pada mereka yang pernah melulusi program tersebut, pasti mereka sangat senang ditanya. Kegagalan pertama kuliah ke luar negeri adalah tidak mengirim aplikasi beasiswa. Kebanyakan mereka yang lolos pernah gagal di beberapa seleksi beasiswa. Jadi, tidak lulus beasiswa itu biasa.

Tentunya, tahapan di atas hanya sebagian kecil dari banyak hal yang bisa anda lakukan. Ada banyak hal yang sangat mungkin mendukung profil anda untuk menjadi kandidat penerima beasiswa yang layak.

Kebanyakan kendala utama dalam mendaftar beasiswa adalah level kemampuan Academic English. Tetapi, jika anda mulai belajar bahasa Inggris sejak awal dan dengan disiplin berbagai tes bahasa Inggris (seperti IELTS atau TOEFL) bisa anda taklukkan. Ingat, kursus IELTS atau TOEFL tidak mengajarkan anda bahasa Inggris dari dasar tetapi lebih mengajarkan teknik menjawab tes-tes tersebut. Jika anda belajar bahasa Inggris dengan baik dan disiplin, berbagai tes bahasa Inggris dapat cepat anda kuasai.

Terakhir, selalu ingat berdoa di setiap usaha. Anda tidak wajib sukses dan juga tidak berdosa jika gagal. Tuhan maha menentukan segalanya dan terkadang kita tidak tahu rencana dibalik keputusanNya. Berdo’a lah agar segala usaha yang dilakukan mengantarkan kepada kebaikan.

salam sukses berberkah,

Hillman Wirawan

NJ, April 2016

“Saya hanya lulusan SMA, lalu apa yang membuatku sukses?”

Sekitar 15 tahun lalu, Richard St. John melakukan sebuah penerbangan menuju San Francisco untuk memenuhi undangan sebagai pembicara Tedx Talk. Selama di perjalanan terjadi sesuatu yang membuatnya berpikir dan terus bertanya. Pertanyaan itu adalah “apa yang membuat seseorang sukses?” Butuh waktu 10 tahun, 500 wawancara, 1000 kisah sukses, dan 1 juta kata yang dianalisis secara sistematis untuk menemukan jawaban ini. Jawaban ini akhirnya menjadi sebuah buku yang berjudul “The 8 traits successful people have in common; 8 to be great.” Baca lebih lanjut

Mau dibawa kemana Kepemimpinan Kita?

Pemimpin dan Kepemimpinan, topik yang sangat menarik namun cukup membingungkan untuk sekedar didefinisikan. Berbagai literatur dan sumber terpercaya mendefinisikan arti pemimpin dan kepemimpin, meskipun definisi-definisi tersebut masih melahirkan perdebatan dan belum tentu sesuai untuk diterapkan (Northouse, 2015). Prof. Sessa, salah seorang ahli kepemimpinan, yang telah menulis banyak artikel, buku, dan menjadi konsultan di berbagai perusahaan bahkan mengakui bahwa dia belum dapat mendefinisikan “leadership.” Tentunya, definisi yang dimaksud bukan sekedar satu dua kalimat yang dapat dituliskan secara sederhana. Baca lebih lanjut

Stereotype Threat dan Label pada Anak

Saya bukan ahli Psikologi Sosial ataupun Psikologi Pendidikan, apalagi Psikologi Perkembangan. Tetapi, ada suatu hal menarik yang sempat saya temukan mengenai Stereotype Threat. Fenomena ini (Stereotype Threat) telah banyak dibahas di berbagai area ilmu Psikologi seperti Psikologi Sosial, Intelligensi, Pendidikan, dan bahkan perkembangan. Saya yakin, beberapa teman yang ahli telah banyak membaca tentang ini. Baca lebih lanjut